Awal Mula Cinta pada Tato
Memori pertama tentang tato saya kembali ke tahun 2016. Waktu itu, saya baru saja menginjak usia 28 dan sedang berada di Bali untuk liburan. Suatu sore, saya menemukan diri saya di sebuah studio tato kecil yang dikelola oleh seorang seniman bernama Jefri. Dengan nuansa bohemian dan mural warna-warni di dindingnya, tempat itu memancarkan aura kreatif yang tak tertahankan. Saya merasa tertarik dan mendekati Jefri sambil mempertanyakan beberapa desain yang ada.
“Kenapa kamu ingin memiliki tato?” tanyanya dengan senyum hangat, menciptakan suasana nyaman. Saya menjawab bahwa saya merasa ada kisah yang ingin dibagikan lewat kulit saya, sesuatu yang bisa mengingatkan diri sendiri tentang perjalanan hidup.
Tantangan dalam Memilih Desain
Pilihannya bukanlah hal yang mudah. Proses memilih desain terasa menegangkan karena artinya adalah membuat komitmen jangka panjang pada tubuh saya. Setelah berpikir cukup lama, akhirnya pilihan jatuh pada seekor burung phoenix dengan api berwarna cerah, melambangkan kebangkitan dan perubahan dalam hidup.
Namun bukan hanya soal desain; proses perawatan pasca-tato juga harus dipertimbangkan matang-matang. Jefri menjelaskan betapa pentingnya menjaga agar tato tetap bersih dan terhidrasi untuk memastikan warna tetap vibrant serta garis tetap tajam.
Pentingnya Perawatan Tato
Setelah mendapatkan tato tersebut, tantangan berikutnya datang: perawatan! Saya ingat saat pertama kali mandi setelah tato selesai—rasanya seperti membiarkan sesuatu yang sangat berharga terkena air tanpa perlindungan. Menurut petunjuk Jefri, selama dua minggu ke depan saya harus memastikan area tersebut bersih dari kotoran dan tidak terkena sinar matahari langsung.
Menyusuri hari-hari berikutnya terasa agak cemas; setiap kali melihat cermin dan menyentuh kulit di sekitar tato baru itu, rasa bangga bercampur dengan kekhawatiran muncul dalam benak saya. “Apakah aku merawat ini dengan benar?” seringkali jadi pertanyaan dominan dalam pikiran hingga saat tidur pun masih terbayang akan hasil akhir dari karya seni ini.
Kesan Pertama: Kebangkitan Rasa Percaya Diri
Setelah dua minggu penuh merawat dengan sabar—mengoleskan salep anti-bakteri setiap malam—akhirnya saat-saat menunggu hasil bisa dinikmati sepenuhnya. Ketika akhirnya dapat melepas pembalut pertama kali setelah perawatan awal selesai, rasanya lebih magis daripada apa pun yang pernah dialami sebelumnya. Warna merah menyala hadir begitu mencolok pada kulit alaminya.
Saat melihat refleksi diri di kaca untuk pertama kalinya setelah proses penyembuhan lengkap, sebuah momen epiphany terjadi: “Ini adalah bagian dari diriku sekarang.” Tato itu tidak hanya sekadar lukisan; ia menjadi simbol perjalanan hidup saya sendiri—tentang kebangkitan dari kesulitan-kesulitan masa lalu menuju keberanian menjalani kehidupan baru.
Pelajaran Berharga Dari Pengalaman Ini
Dari pengalaman tersebut, satu hal jelas bagi saya: perawatan bukan sekadar rutinitas fisik semata; itu merupakan bentuk penghargaan terhadap diri sendiri. Merawat sesuatu yang berarti bagi kita dapat memberikan dampak luar biasa terhadap cara pandang kita terhadap dunia sekaligus memperkuat rasa percaya diri kita.
Tidak hanya soal menghindari infeksi atau pudar warna; perawatan tattoo mengajarkan disiplin—a quality I needed in many aspects of my life as well! Sebuah pelajaran berharga bahwa keputusan besar butuh tanggung jawab besar pula.
Sekarang setiap kali melihat burung phoenix tersebut di lengan kiri saya, selalu ada kenangan akan momen ketika pengambilan keputusan ini terjadi bersama Jefri di studio tatonya. Tato ini adalah simbol transformasi—dan tentu saja pengingat bahwa merawat apa pun dalam hidup perlu dilakukan dengan cinta dan perhatian sebaik mungkin.